Pondok Pesantren Modern Assa'adah
Rubrik : Islam, Saint dan Teknologi
keajaiban laba-laba
Senin, 11 Januari 10 - by : uun marfu'ah
PENDAHULUAN

Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dari pada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa'atanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.
(QS. Al Furqan, 25: 3) !
Ada beratus-ratus spesies laba-laba di dunia. Hewan-hewan kecil ini terkadang nampak sebagai ahli konstruksi yang mampu melakukan perhitungan untuk membangun sarangnya, terkadang sebagai desainer interior yang sedang membuat rencana-rencana rumit, dan di waktu yang lain sebagai ahli kimia yang sedang membuat benang yang sangat kuat dan fleksibel, racun yang mematikan, serta asam-asam pelarut, dan kadang sebagai pemburu yang menggunakan taktik-taktik yang sangat cerdik.
Meski begitu banyak karakteristik unggul yang dimilikinya, tak seorang pun dalam kesehariannya pernah memikirkan betapa khas-nya mahluk yang dinamai laba-laba ini. Karena anggapan sepele inilah tidak ada perasaan takjub terhadap keberadaan laba-laba, atau pun terhadap keberadaan mahluk kecil lainnya. Ini merupakan cara berpikir yang sungguh keliru. Karena jika kita mulai mempelajari perihal laba-laba, juga mengenai perilaku mahluk lainnya, misalnya dengan memperhatikan cara mereka berburu, berkembang-biak, dan mempertahankan diri, kita akan menjumpai karakteristik-karakteristik yang akan membuat kita terkagum-kagum.
Di alam ini, semua mahluk hidup mengambil pola-pola perilaku yang membutuhkan kecerdasan agar bisa bertahan hidup. Pola-pola perilaku ini, yang mendasari kecakapan, kepiawaian dan kemampuan-kemampuan perencanaan unggul memiliki satu kesamaan. Masing-masing perilaku ini mensyaratkan adanya kemampuan. Kecakapan yang hanya dapat dikuasai manusia dengan cara belajar, latihan ulang dan pengalaman ini, telah ada pada mahluk-mahluk hidup ini sejak pertama kali mereka lahir.
Bagian selanjutnya dari buku ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab, yakni: bagaimana kemampuan-kemampuan tersebut timbul, dan bagaimana mahluk-mahluk hidup ini belajar. Mahluk yang beraksi dengan kecerdasan tinggi ini mampu berburu dengan perhitungan yang cermat, dan jika perlu dapat bertindak sebagai insinyur-insinyur kimia yang mengetahui material apa yang harus dihasilkan pada situasi tertentu. Dan ini sungguh telah membuat ilmuwan yang mempelajarinya terkagum-kagum. Hal demikian ini bahkan membuat para ilmuwan evolusionis mengakui bahwa mahluk-mahluk hidup terpandai memiliki karakteristik-karakteristik yang membutuhkan kecerdasan. Meskipun sebagai seorang evolusionis, ilmuwan Richard Dawkins dalam bukunya Climbing Mount Improbable menguraikan perilaku laba-laba dengan ungkapan sebagai berikut:
Dalam perjalanan, kami kadang sempat memandangi jaring laba-laba - hasil karya berdaya guna yang dibuat dengan kecerdasan tanpa sadar yang mengagumkan.
Dengan berkata demikian, sebenarnya Dawkins dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan "bagaimana perilaku cerdas tanpa sadar dari hewan ini timbul, dan apa sumbernya?"; pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori evolusi dengan cara apapun. Sungguh, pertanyaan seperti "Bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki kecerdasan ini, dan bagaimana mereka belajar menerapkannya?", merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh para pembela teori evolusi secara terbuka dan pasti.
Sampai di sini, argumen yang digunakan kaum evolusionis dalam menjawab pertanyaan tentang perilaku cerdas (sadar) dari hewan-hewan sudah waktunya untuk diuji. Mari kita lakukan dengan menjelaskan arti dari istilah yang digunakan kaum evolusionis dalam pernyataan mereka.
Dalam usaha mencari jawaban terhadap pertanyaan "bagaimana mahluk-mahluk hidup bisa memiliki perilaku bertujuan", kaum evolusionis menggunakan istilah "insting". Namun sama sekali tidak berhasil. Hal ini bisa dilihat dengan jelas melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep "insting". Kaum evolusionis mengatakan bahwa hewan-hewan terikat dengan hal-hal seperti pembaktian, perencanaan, taktik-taktik atau perilaku yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus, yang memerlukan kesadaran dan kecerdasan berkat adanya "insting". Namun tentu saja pernyataan demikian saja tidaklah cukup. Selain membuat pernyataaan tersebut, mereka juga harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan seperti bagaimana perilaku ini pertama kali muncul, bagaimana hal ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan bagaimana konsep "insting" mampu memberikan kesadaran dan kecerdasan kepada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis sama sekali tidak memiliki jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Seorang pakar ilmu genetika evolusionis, Rattray Taylor, mengatakan hal berikut ini tentang insting:
Saat kami bertanya kepada diri sendiri bagaimana pola perilaku instingtif muncul pertama kali dan kemudian diwariskan secara tetap, kami tidak mendapatkan jawabannya.
Evolusionis lain mengatakan bahwa perilaku mahluk-mahluk hidup tidak lah berlandaskan pada insting melainkan pada pemrograman genetika. Namun, dalam hal ini mereka harus menjelaskan siapa yang menuliskan program tersebut serta memasangkannya pada mahluk-mahluk hidup. Kaum evolusionis tidak mampu menjelaskannya. Sebagai sumber penggagas teori evolusi, Charles Darwin sendiri mengakui dilema mereka dengan kata-kata berikut ini:
Kekaguman terhadap insting lebah yang mampu membuat sel-sel sarangnya mungkin dialami juga oleh para pembaca, sebagai hal pelik yang memadai untuk meruntuhkan teori saya secara keseluruhan.
Jelaslah bahwa konsep semacam "insting" sama sekali tidak memadai untuk menerangkan perilaku sadar dari mahluk-mahluk hidup. Tentu saja ada sebuah kekuatan yang memrogram mahluk-mahluk hidup, dan mengajari mereka harus berbuat apa. Namun ini bukan berasal dari "Induk Alam" seperti yang mereka sebut, atau dari mahluk hidup itu sendiri, yang membela masa mudanya dengan seluruh hidupnya sendiri, atau yang datang kembali untuk mengelabui musuh dengan berbagai taktik untuk menyelamatkan kehidupan anggota grupnya sendiri.
Kekuatan yang memberi mereka semua karakteristik ini, yang menciptakan perilaku cerdas mereka dan yang menciptakan gerakan-gerakan bertujuan ini adalah kekuatan Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya penguasa kecerdasan, yang dapat kita saksikan dalam berbagai mahluk hidup di alam dalam jumlah yang tidak terhitung. Tuhan lah yang mengilhami mahluk-mahluk hidup untuk melakukan apa yang mereka perbuat.
Mustahil sekali untuk menjelaskan perilaku mahluk hidup manapun dengan menggunakan asas kebetulan, atau dengan mekanisme lain atau dengan konsep lain yang menarik. Pernyataan-pernyataan semacam ini tidak lebih dari sebuah penipuan. Semua ini dinyatakan dalam salah satu ayat-ayatNya:
Katakanlah: 'Pernahkah engkau melihat sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah? Tunjukkanlah kepadaku bagian dari bumi yang telah diciptakannya; ataukah mereka memiliki andil dalam penciptaan langit?' Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat tanda-tanda yang jelas yang dapat diikutinya? Sama sekali tidak! Sungguh orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian lainnya selain tipuan belaka. (Surah Fatir: 40)
Mahluk hidup yang menjadi pokok bahasan buku ini, yakni laba-laba, pola-pola perilakunya dan mekanisme tanpa cacat yang dimilikinya, merupakan salah satu yang menyingkapkan kebohongan teori evolusi, atau lebih tegasnya "meruntuhkan teori evolusi". Halaman-halaman berikut akan menunjukkan salah satu dari keajaiban ciptaan Tuhan yang tak terhitung banyaknya, yakni keajaiban laba-laba. Bersamaan dengan itu, uraian di dalamnya lagi-lagi akan menunjukkan bahwa teori evolusi yang berlandaskan konsep kebetulan sangat tidak berdaya dan menggelikan.
Mungkin ada pembaca yang berpikir bahwa pokok bahasan buku ini tidak begitu menarik. Mereka mungkin berpendapat bahwa buku tentang serangga kecil tidak akan ada artinya bagi mereka. Lagi pula, kesibukan sehari-hari merintangi mereka untuk membaca buku semacam ini.
Namun di sisi lain, pembaca yang sama mungkin berpendapat bahwa buku riset ekonomi atau politik, atau sebuah novel, lebih menarik dan lebih "bermanfaat" bagi mereka. Atau buku-buku lain malah lebih menarik lagi. Padahal sebenarnya, buku di tangan pembaca ini jauh lebih "bermanfaat" di banding buku-buku tersebut, bahkan menyajikan lebih banyak hal. Karena buku ini bukan sekedar sebuah teks biologi yang mengulas informasi rinci mengenai hewan kecil yang disebut laba-laba. Pokok bahasannya memang laba-laba, namun yang terpenting adalah hakikat kehidupan yang diungkapkan dan pesan yang dibawanya.
Ibarat sebuah anak kunci… Sebagai benda yang berdiri sendiri, anak kunci sama sekali tidak lah penting. Jika Anda berikan kepada seseorang yang belum pernah melihatnya, dan tidak mengetahui hubungan antara anak kunci dan lubang-kunci, benda tersebut akan dianggapnya sebagai logam yang tak berarti dan tak berguna. Pada fungsi yang sebenarnya, bergantung pada apa yang ada di balik pintu, sebuah anak kunci bisa menjadi benda paling berharga di dunia.
Buku ini tidak ditulis semata-mata untuk membicarakan tentang laba-laba. Isi bahasannya akan digunakan sebagai "anak-kunci". Karena dengan anak kunci inilah pintu realitas akan terbuka. Di balik pintu ini, Anda akan menemukan kebenaran teragung di sepanjang hayat. Buku ini akan menunjukkan betapa tidak berdasarnya teori evolusi yang dikemukakan oleh mereka yang ingin menyangkal kebenaran. Buku ini juga memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan yang diajukan sejak permulaan sejarah. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti "Siapa aku ini?", "Bagaimana jagat raya dan aku diciptakan?", dan "Apa tujuan serta arti dari kehidupan ini?" merupakan realitas di balik pintu ini.
Jawabannya adalah: manusia, dan jagat raya yang dihuninya, diciptakan hingga ke bagian yang terkecilnya oleh Sang Pencipta, dan mereka ada untuk menunjukkan keberadaanNya serta untuk menyembahNya. Sang Pencipta itu, yang tak memiliki cacat dan kelemahan sedikitpun serta tidak terbatas kekuasaannya, adalah Tuhan. Seperti telah dinyatakan dalam Al-Qur'an, alasan utama keberadaan manusia adalah agar memperhatikan tindak-lakunya [?] serta penciptaan jagat raya, dan untuk mengabdi kepada Tuhan, Penguasa seluruh alam.
Untuk memahami hal ini perlu ikhtiar. Sebagiannya dengan melakukan pengamatan terhadap segala sesuatu yang ada, merenungkannya, dan berusaha menangkap pesan di dalamnya. Karena segala sesuatu yang ada, dan khususnya setiap mahluk hidup di alam, merupakan tanda keberadaan Tuhan dan menjadi saksi atas keberadaanNya.
Tuhan mengajak kita merenungkan ayat Qur'an berikut ini, yang disampaikanNya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada manusia yang diciptakanNya:
Dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, dan bahtera yang berlayar di lautan untuk kemaslahatan manusia, dan air yang dikirimkan Tuhan dari langit - yang dengannya dihidupkanNya bumi sesudah mati (kering) dan disebarkanNya berbagai jenis mahluk - dan angin serta awan yang bergerak dengan patuhnya ke berbagai arah di antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda bagi mereka yang menggunakan akalnya. (Surat al-Baqarah: 164)


“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Ad Dhukhaan, 44: 38-39) !
Jika diperhatikan, pernyataan ayat Qur'an di atas nampak sebagai peristiwa yang sangat biasa bagi kebanyakan orang. Pergantian malam dan siang, bahtera yang terapung bukannya tenggelam, hujan yang memberi kehidupan kepada tanah, pergerakan angin dan awan… Manusia moderen berpendapat bahwa semuanya ini dapat dijelaskan dengan sains dan dengan menggunakan logika mekanis. Karenanya, dia berpendapat bahwa semuanya itu tidak mengherankan sedikitpun. Namun demikian, sains hanya membahas kebenaran-kebenaran material semata, dan tak pernah mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan "Mengapa?". Kondisi jahiliyah yang menyebar karena dominasi tatanan sosial tak beragama lah yang menghalangi orang untuk memperhatikan ayat-ayat ini, serta untuk memahami makna lain di baliknya. Sungguh, Qur'an sendiri mengatakan bahwa hakikat ayat-ayat tersebut hanya dapat difahami oleh "orang-orang yang berpikir".
Bagi "orang yang berpikir", setiap bagian alam merupakan sebuah tanda/ayat, atau dengan kata lain sebagai sebuah kunci bagi pintu kebenaran. Karena alam dapat dibagi kedalam bagian yang lebih kecil secara tak berhingga, maka jumlah pintu dan kunci pun menjadi tak berhingga pula. Namun membuka satu pintu saja terkadang cukup bagi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Dengan hanya mengambil satu bagian dari alam, misalnya, satu tumbuhan atau seekor hewan, akan membimbing pencari-kebenaran kepada pemahaman terhadap seluruh jagat raya. Untuk alasan inilah Tuhan menyatakan di dalam Qur'an bahwa "Tuhan tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk atau yang lebih rendah dari itu", karena "bagi mereka yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka." (Surat Al-Baqarah:26)
Mahluk yang begitu kecil seperti nyamuk, juga laba-laba, disebut-sebut dalam ayat-ayat Tuhan. Namun seperti halnya terhadap nyamuk, orang-orang pada umumnya menganggap bahwa laba-laba bukan sesuatu hal yang penting. Hanya "orang-orang yang berpikir" saja yang dapat melihat keajaiban yang disampaikan ayat-ayat ini. Hewan-hewan kecil ini dapat dilihat sebagai kunci, yang dapat membuka pintu untuk melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan. Buku ini akan menguraikan tentang karakteristik laba-laba yang menakjubkan dan luarbiasa, yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Dalam uaraiannya, akan dibahas pula pertanyaan "bagaimana?" dan "mengapa?"-nya untuk menyingkap pintu kebenaran tersebut. Untuk alasan ini saja, buku ini menjadi lebih berarti dibanding kebanyakan buku yang telah Anda baca. Karena bagi manusia, menjadi salah satu dari "orang-orang yang berpikir" adalah lebih penting dibanding hal lainnya.
Dan Dia lah yang membuat segala yang di langit dan segala yang di bumi tunduk kepadamu. Itu semua dari Dia. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasan Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir. (Surat Al-Jasiyah: 13)


CARA LABA-LABA BERBURU
Kebanyakan orang mengira bahwa laba-laba adalah hewan yang menggunakan jaring untuk menangkap mangsanya. Namun perkiraan ini sama sekali tidak menceriterakan kisah laba-laba secara keseluruhan, karena jaring-jaring yang ajaib dari segi arsitektur maupun dari segi rekayasanya bukan lah satu-satunya cara laba-laba untuk menangkap mangsanya. Disamping membuat jaring, laba-laba menggunakan taktik-taktik lain yang menakjubkan saat berburu.
Laba-laba Pelempar Lasso
Dari sekian banyak spesies laba-laba, salah satu yang paling menarik karena teknik-teknik berburunya adalah laba-laba "Bolas". Berdasarkan hasil riset rinci terhadap mahluk ini, seorang pakar laba-laba, Dr. Gertsch, menemukan bahwa laba-laba ini menggunakan hidungnya untuk menangkap mangsanya.

Karena laba-laba Bolas melemparkan lasonya lebih cepat dari penglihatan mata manusia, dibutuhkan teknik khusus untuk mengambil gambar ini. Banyak orang mengira kalau laba-laba adalah serangga. Namun, ilmuwan mengklasifikasikan laba-laba dalam kelas arachnid (bersama kalajengking, kutu, tungau), yang dalam beberapa hal berbeda dengan serangga. Laba-laba mem-punyai delapan kaki, sementara semut, lebah, kumbang, dan serangga lain hanya mempunyai enam kaki. Kebanyakan serangga juga mempunyai sayap dan antena sedangkan laba-laba tidak. Arachnid termasuk filum Artropoda.
Di dunia terdapat lebih dari 30.000 jenis laba-laba yang diketahui, dan bisa dikelompokkan dari cara hidupnya.
a) Laba-laba pemintal jaring membuat jaring untuk menangkap serangga.
b) Laba-laba pemburu mengejar serangga atau menunggu mereka.
Dari segi struktur tubuh seperti taringnya, laba-laba dikelompokkan atas laba-laba sejati dan tarantula.

Laba-laba Bolas memburu mangsanya dalam dua tahap. Pada tahap pertama, laba-laba ini membuat benang berujung lengket dan bersiap-siap untuk menyergap. Selanjutnya, ia akan menggunakan benang lengket ini sebagai sebuah lasso. Kemudian, untuk mengundang mangsanya, laba-laba ini menaruh suatu zat kimia khusus. Zat kimia ini adalah "pheromone", yang biasa digunakan ngengat betina untuk memikat pasangannya. (Ngengat jantan yang tertipu dengan panggilan palsu ini, datang mendekati sumber bau.) Laba-laba yang penglihatannya sangat buruk dapat merasakan getaran yang ditimbulkan saat ngengat terbang. Dengan cara ini, laba-laba dapat merasakan kedatangan mangsanya. Yang menarik, meskipun nyaris buta, laba-laba Bolas ini dapat menangkap mahluk yang sedang terbang dengan seutas benang yang dibuatnya sendiri sambil bergelantungan di udara.
Buku Strange Things Animals Do mengibaratkan teknik berburu laba-laba ini dengan seorang koboi yang sedang melemparkan lasso:
Laba-laba ini membuat seutas tali sutera, kemudian menaruh bandul cairan lengket di satu ujungnya. Dengan cara ini, senjata ini mengingatkan seseorang akan sebuah lasso koboi. Kemudian ia mengangkat benang ini dengan kedua kaki depannya, yang kini bertindak sebagai tangan. Ketika seekor ngengat terbang mendekat, ia melempar lassonya. Bandul lengketnya mengenai tubuh serangga yang terbang dan menempel kuat padanya. Ngengat korban selanjutnya ditarik oleh laba-laba Bolas dan dibungkusnya.
Tahap kedua dimulai ketika korban yang tertipu bau-bauan mendekat. Dengan menarik kaki-kakinya ke belakang, laba-laba mengambil posisi menyerang dan melempar lassonya lebih cepat dari pandangan mata manusia. Ngengat tertangkap oleh bandul lengket di ujung benang. Laba-laba kemudian menarik-gulung mangsanya dan menggigitnya untuk melumpuhkannya. Selanjutnya ngengat dibungkus dengan benang khusus, yang dapat menjaga kesegaran makanan dalam waktu lama. Dengan cara ini, laba-laba mengawetkan makanannya untuk konsumsi masa datang.
Dalam buku yang sama, penulisnya mengevaluasi pergerakan laba-laba yang terencana ini dengan istilah-istilah berikut:
Para ilmuwan menyebut Bolas sebagai mahluk tingkat rendah. Dr. Gertsch tidak yakin bahwa istilah ini tepat untuk laba-laba. Karena apa yang mampu dilakukan mahluk rendah ini tidak dapat dilakukan oleh singa laut, anjing, atau singa terlatih sekalipun, bahkan seorang koboi pun mengalami kesukaran untuk melakukannya.

Laba-laba Bolas menangkap mangsanya dengan bola lengket yang tampak pada gambar ini.
Karenanya jelas bahwa teknik berburu dari laba-laba Bolas membutuhkan kecakapan khusus, bahkan semestinya berdasarkan pengalaman praktek. Jika kita lihat prosesnya tahap demi tahap, tingkat kesulitan yang dilakukan laba-laba menjadi semakin jelas. Mari kita lihat jawaban terhadap pertanyaan berikut, "Apa yang mesti dilakukan laba-laba Bolas ketika berburu?"
Menyiapkan bandul lengket di ujung benang.
Membuat dan melepaskan dari tubuhnya zat bau yang dibuat ngengat betina untuk memikat pasangan jantannya.
Melemparkan lasso pada mangsanya lebih cepat dari pandangan manusia.
Membidikkan lasso tepat mengenai mangsanya.
Akhirnya, membuat benang khusus yang dapat menjaga kesegaran mangsa, serta membungkusnya.
Maka, bagaimana laba-laba Bolas mampu bekerja dalam kerangka kerja yang terencana demikian baiknya? Membuat rencana merupakan ciri mahluk-mahluk yang memiliki daya pikir, yakni manusia. Lebih jauh lagi, otak laba-laba tidak memiliki kapasitas untuk menyusun dan melakukan semua itu. Dalam hal ini, bagaimana laba-laba dapat memiliki teknik berburu dengan karakteristik yang begitu menakjubkan? Inilah pertanyaan yang jawabannya masih dicari para ilmuwan.
Menurut kaum evolusionis, semua karakteristik yang dimiliki laba-laba diperolehnya secara kebetulan. Laba-laba membuat keputusan untuk membuat lasso, membuat zat kimia, mengetahui bahwa ia harus mengundang ngengat ke arahnya, serta mendapat kecakapan menembak dengan lasso, semuanya secara kebetulan. Semua kemampuan yang diperlukan untuk berburu dengan menggunakan lasso terjadi secara kebetulan sama sekali. Jelas bahwa pernyataan seperti itu hanyalah sebuah fantasi, tanpa landasan ilmiah ataupun logika. Untuk melihat lebih jelas seberapa jauh fantasi kaum evolusionis ini dari fakta-fakta ilmiah, mari kita bayangkan sebuah skenario kecil; meskipun hal ini sangat mustahil.
Skenario: Jaman dahulu kala, seekor laba-laba menyadari bahwa ia tidak dapat membangun jaring seperti laba-laba lainnya. Karenanya, ia mulai mencari-cari di sekitarnya. Pada suatu hari, ia melihat bahwa ngengat betina menggunakan zat kimia untuk memikat ngengat jantan. Ia berpikir bahwa untuk menangkap ngengat, ia harus membuat zat kimia serupa dengan membangun pabrik kimia tersebut di dalam tubuhnya. Namun masalahnya belum selesai. Karena tanpa kemampuan untuk menangkapnya, tidak ada artinya mengundang kedatangan ngengat-ngengat tersebut. Sampai di sini ia mempunyai ide lainnya untuk membuat senjata berbentuk antara lasso dan tongkat-kebesaran dari benang yang dihasilkannya.
Namun, membuat senjata saja belumlah cukup. Saat pertama kali berburu, jika tembakan senjatanya tidak mengenai sasaran, segala usaha sebelumnya menjadi sia-sia. Bahkan lebih buruk dari itu, ia bisa mati kelaparan. Ternyata tidak demikian. Ia mampu menangkap mangsanya, bahkan kemudia "berhasil" mengembangkan teknik berburu yang sempurna. Setelah itu, ia berpikir untuk mengajarkan teknik berburunya secara rinci kepada laba-laba lain dan kemudian menemukan cara untuk mengalihkan pengetahuannya ini ke generasi berikutnya.
Ini baru sebagian dari skenario. Namun skenario ini tidak cukup hanya dalam bentuk tulisan saja, melainkan harus diwujudkan kedalam kenyataan. Sampai di sini, mari kita pikirkan beberapa alternatif imajiner dalam lingkup skenario imajiner di atas.
Alternatif imajiner ke-1: Terdiri dari istilah yang kaum evolusionis menyebutnya sebagai "Induk Alam", yakni pepohonan, bunga-bunga, langit, air, hujan, matahari, dll. Kemudian semua kekuatan-kekuatan alam bekerja dengan harmonis membentuk sebuah sistem yang berfungsi dengan sempurna. Dalam proses ini, laba-laba tidak dilupakan, tentu saja dengan teknik berburunya yang cakap.
Alternatif imajiner ke-2: Peristiwa kebetulan murni. Kaum evolusionis lagi-lagi menjelaskannya sebagai sebuah kekuatan aktif yang membantu laba-laba Bolas, juga pemburu-pemburu lainnya, sehingga dapat memiliki kecakapan memangsa.
Tentu saja ini hanyalah sebuah fantasi, sebuah produk imajinasi aktif. Pemilik imajinasi ini adalah para ilmuwan evolusioner. Sebelum beralih ke jawaban nyata, mari kita lihat betapa tidak logis, tidak sahih, serta tidak berdasarnya skenario-skenario ini.
Pada kenyataannya, laba-laba Bolas bukanlah seorang insinyur kimia! Mustahil mahluk ini dapat mempelajari zat kimia yang dikeluarkan ngengat lalu menganalisisnya, dan kemudian segera tahu cara membuatnya di dalam tubuhnya. Hal seperti ini sama sekali bertentangan dengan pikiran, logika, dan sains.
Selain untuk berburu, laba-laba tidak menggunakan zat kimia tadi untuk hal lainnya. Meskipun dapat membuatnya secara kebetulan, ia harus memahami kesamaan antara bau yang dikeluarkan ngengat dengan bau yang dibuatkannya. Untuk itu membutuhkan kecerdasan agar bisa menggunakannya sesuai dengan keinginan.
Bahkan jika kita terima bahwa laba-laba telah "belajar" dari alam mengenai bau zat kimia yang dikeluarkan ngengat ini, serta "cukup pandai" untuk menggunakannya, maka ia harus mampu melakukan perubahan fisik yang diperlukan untuk menghasilkan zat kimia tersebut. Mustahil bagi mahluk hidup manapun, atas kehendaknya sendiri, menambah organ tambahan atau sistem produksi kimia kepada tubuhnya sendiri. Berpikiran bahwa seekor laba-laba mampu melakukannya, apalagi menyatakannya sebagai fakta, sama saja dengan meninggalkan jauh-jauh batas-batas logika.
Betapapun mustahilnya, mari kita anggap bahwa laba-laba mendapatkan semua karakteristik ini secara kebetulan. Kemudian laba-laba tersebut harus memiliki "pemikiran" tentang cara menggunakan lasso untuk menangkap ngengat, dan setelah "merancangnya" kemudian mampu menciptakannya atas kehendaknya sendiri.
Dari sini jelas bahwa dengan mempelajari karakteristik-karakteristik laba-laba Bolas secara saksama, orang akan memahami betapa menggelikannya teori evolusi itu. Teori yang melulu berlandaskan kepada konsep kebetulan. Jelas bahwa suatu peristiwa kebetulan tak akan bisa membuat laba-laba memiliki keistimewaan-keistimewaan di atas, yakni kecerdasan, perencanaan dan taktik-taktik berburu. Lebih jauh lagi, sampai kapan pun laba-laba tidak akan mampu menciptakan sendiri keistimewaannya itu. Tidak perlu pemikiran yang panjang dan keras ataupun riset untuk memahami hal ini. Dengan sedikit akal sehat sudah cukup untuk melihat kebenaran yang jelas-jelas nampak ini.
Maka jelas sekali bahwa skenario kaum evolusi sungguh teramat keliru. Yang tersisa hanyalah kebenaran: Bahwa situasi yang kita bahas memerlukan adanya aksi penciptaan yang sangat khusus. Tuhan lah yang menciptakan semua mahluk hidup, tetumbuhan, binatang, dan serangga, Tuhan memiliki kekuatan, pengetahuan, kecerdasan, dan kebijakan tanpa batas.
'Tuhan langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun' (Surat Shad: 66)
Pintu-perangkap Untuk Hidup Di Gurun

Saat memburu mangsanya, laba-laba pintu-perangkap hanya meletakkan kaki-kaki depannya di luar.
Bagi kebanyakan mahluk hidup, panasnya iklim gurun bisa mematikan. Namun, beberapa mahluk memiliki kecakapan untuk dapat bertahan terhadap panasnya gurun. Baik teknik-teknik berburu, susunan tubuh, ataupun cara perilaku mereka membuatnya hidup nyaman di lingkungan gurun. Salah satu pesies yang menjadi pokok bahasan buku ini, yakni laba-laba, memiliki karakteristik-karakteristik yang diperlukan untuk dapat hidup di gurun. Mahluk yang dikenal sebagai "laba-laba pintuperangkap" ini menggunakan rumah berpenyekat di dasar gurun sebagai pelindung dari panas dan sebagai perangkap untuk menangkap mangsanya.
Mula-mula laba-laba ini menggali liang di dalam tanah. Kemudian memelester bagian dalam terowongan dengan campuran tanah dan cairan yang dihasilkan tubuhnya. Proses ini memperkuat dinding terhadap bahaya keruntuhan. Selanjutnya ia menutupi dinding-dinding ini dengan benang buatannya. Teknik pelesteran ini serupa dengan teknik isolasi termal yang kita gunakan dewasa ini. Dengan cara ini, bagian dalam sarang menjadi tahan terhadap temperatur luar yang tinggi.
Telah kami sebutkan pula bahwa sarang ini digunakan pula sebagai perangkap. Laba-laba ini membuat tutup sarang dari sutera buatan sendiri. Salah satu sisinya dilekatkan ke sarang dengan engsel benang yang kokoh, layaknya sebuah pintu rumah. Pintu ini juga menjadi tempat persembunyian laba-laba dari mangsanya, yang disamarkannya dengan serpihan daun, semak-semak dan tanah. Kemudian membuat tegang benang-benang yang ada di bawah daun, dari arah luar menuju ke bagian dalam sarang. Ketika segalanya telah siap, laba-laba masuk ke sarang dan menunggu mangsanya datang. Ketika serangga mendekati sarang dan menginjak daun atau tanah di atasnya, benang-benang di bawah tanah akan bergetar. Berkat getaran inilah, laba-laba mengetahui bahwa mangsanya telah dekat.



Gambar ini memperlihatkan jalan masuk ke pintu jebakan sarang laba-laba.
Laba-laba pintu-perangkap dapat hidup selama 10 tahun di dalam sarangnya. Ia menjalani seluruh hidupnya di dalam terowongan gelap dan hampir tak pernah keluar. Bahkan saat membuka daun penutup untuk mengejar mangsanya, kaki belakangnya tidak pernah meninggalkan sarang. Jika pintu ini terbuka oleh ranting, laba-laba akan berusaha keras untuk menutupinya kembali. Laba-laba betina tidak pernah meninggalkan sarang, sedangkan yang jantan hanya keluar untuk mencari pasangan. Saat tiba waktu untuk berkembang biak, laba-laba betina menutup pintu rapat-rapat dengan benang buatannya. Telah diamati bahwa induk laba-laba dapat tinggal selama setahun di dalam sarang tanpa meninggalkannya.
Laba-laba pintu-perangkap berburu pada malam hari dan menutup rapat pintu sarangnya pada siang hari. Ketika malam mulai tiba, laba-laba membuka sebagian tutup sarang untuk memastikan bahwa hari telah benar-benar gelap. Jika telah gelap, tutup sarang dibuka sebagian dan melonjorkan kaki depannya keluar. Posisi ini bisa bertahan hingga berjam-jam. Jika ada semut mendekat, laba-laba segera menerkam secepat kilat dan menariknya kedalam liang. Tutup sarang akan otomatis menutup karena beratnya sendiri.
Tidak diragukan bahwa untuk belajar hidup dengan cara di atas dibutuhkan kemampuan yang menuntut kecerdasan, misalnya kemampuan membangun. Mustahil bahwa kemampuan untuk melindungi diri dari hawa panas atau untuk menyamarkan diri ini diperoleh secara kebetulan, atau dengan cara coba-coba. Bahkan sebelum membangun terowongan, ia "tahu" akan menggunakan suteranya untuk melindungi diri dari teriknya panas, akan menggunakan benang yang sama untuk membuat penutup sarang, akan menggunakan sarangnya untuk bersembunyi dari musuh-musuh dan sekaligus sebagai perangkap, dan akan melahirkan keturunannya dengan aman di dalam sarang yang berselimutkan sutera ini. Jika tidak demikian, laba-laba yang pertama kali muncul akan mati karena panas atau kelaparan di tengah-tengah gurun. Itu artinya kepunahan dari spesies ini.
Lebih dari itu, setiap laba-laba yang baru lahir berperilaku sama. Membangun sarang dan mencari makan dengan cara yang sama. Karenanya, laba-laba pertama tidak hanya cukup dengan memiliki keistimewaan yang menakjubkan ini, melainkan harus mampu pula mewariskan semua kemampuannya kepada generasi berikutnya. Ini hanya bisa terjadi jika pengetahuan ini melekat erat dalam gen-gen laba-laba. Selain semua fakta ini, kita masih menghadapi beberapa pertanyaan. Bagaimana laba-laba pintu-perangkap bisa memiliki karakteristik-karakteristik ini, dan siapa yang melekatkan kemampuan itu kedalam gen-gennya?
Sementara teori evolusi mencoba menjelaskannya dengan konsep-konsep semacam insting, mekanisme imajiner, kejadian kebetulan, atau Induk Alam, pola-pola perilaku cerdas ini: kemampuan merencanakan, pemilihan dan implementasi taktis, dan konstruksi tubuh tanpa cacat, pada kenyataannya hanya bisa memiliki satu penjelasan. Tuhan lah yang memberi semua mahluk hidup kecakapan yang dimilikinya. Dia menciptakan mereka lengkap dengan kecakapannya. Tuhan memiliki pengetahuan tiada tara.
Laba-laba Penyamar Yang Ulung

Warna bunga dan laba-laba di gambar ini benar-benar serupa. Begitu miripnya sehingga beberapa serangga mengira laba-laba adalah bunga dan mendarat di atasnya. Kekuatan yang membuat kedua makhluk hidup ini betitu bersesuaian satu sama lain, dengan warna yang identik, adalah Tuhan.
Bertentangan dengan kepercayaan umum, banyak jenis laba-laba berburu tanpa membangun jaring. Salah satunya adalah Laba-laba kepiting. Ia menyamarkan dirinya pada bunga-bungaan dan menyantap lebah-lebah yang hinggap padanya.
Dengan menggunakan kemampuannya, laba-laba kepiting merubah warna tubuhnya menjadi kuning atau putih sesuai warna bunga. Kakinya disembunyikan dengan sempurna ditengah-tengah bunga dan bersiap diri menunggu mangsa. Warna tubuhnya menyamai warna bunga tempat ia bersembunyi dengan sempurna. Hanya dengan perhatian yang saksama saja laba-laba ini dapat dibedakan dari bunga tempat persembunyiannya.
Laba-laba ini beraksi ketika seekor lebah hinggap untuk menghisap madu dari bunga dimana ia siap menyergap. Pada ketika itu, laba-laba secara perlahan-lahan merangkulkan kaki-kakinya ke tubuh lebah, kemudian dengan gerakan cepat menggigit kepala lebah dan menyuntikan bisa langsung ke otak mangsanya. Setelah itu, ia memakan korbannya. Laba-laba dapat menyamarkan dirinya pada bunga dengan begitu cerdik sehingga kupu-kupu atau lebah kadang hinggap tepat di atasnya tanpa menyadarinya.
Apakah laba-laba bisa berubah warna karena kejadian yang kebetulan? Apakah ia mempelajari bunga-bunga kemudian menyalin warnanya dan kemudian merubah warna tubuhnya? Jelas bahwa laba-laba tidak memiliki kemampuan seperti itu. Selain beberapa pusat syaraf, ia bahkan tidak memiliki otak untuk berpikir. Lebih dari itu, laba-laba adalah mahluk yang buta warna. Ia tidak mengetahui warna putih atau pun merah muda. Bahkan jika kita beranggapan bahwa ia mampu menyesuaikan warna tubuhnya, mustahil baginya membuat warna tersebut di dalam tubuhnya sendiri. Tuhan Yang Maha Perkasa lah yang membuat laba-laba mampu membedakan dan menghasilkan warna-warna.

Di samping memiliki bayangan warna yang sama dengan bunga yang mereka diami, beberapa laba-laba bahkan mempunyai pola yang sama.
Laba-laba Caerostis berburu di malam hari. Pada saat fajar ia membongkar jaringnya dan menunggu malam datang lagi. Ranting yang diserupainya, di mana ia berada sepanjang hari, menyamarkannya.
Laba-laba (atas) tetap menyerupai pasir yang ia lewati. Orang harus melihat dengan sangat saksama untuk membedakan laba-laba itu dari latar belakangnya.

Jelas bahwa Tuhan telah menciptakan laba-laba dengan kemampuan untuk menyesuaikan warna tubuhnya dengan warna bunga. Keadaannya bagaikan dua gambar yang dibuat dalam kanvas yang sama, dengan cat-cat yang sama dan disapu dengan warna dan nuansa yang sama, dan sangat bersesuaian sehingga tidak dapat dijelaskan oleh dongeng tentang 'kejadian yang kebetulan'.
Berburu Dengan Jaring Tangga Melingkar
Bagi banyak mahluk hidup, jaring laba-laba merupakan perangkap maut. Namun ada beberapa mahluk yang dapat selamat dari perangkap maut ini. Sebagai contoh, ngengat-biasa tidak mempan terhadap jaring laba-laba karena debu pada tubuhnya menutupi perekat pada jaring dan membuatnya menjadi tidak efektif. Berkat debu inilah ngengat dapat lolos dengan mudah.
Namun ngengat masih dapat terjerat oleh jaring yang konstruksinya tidak biasa. Jaring laba-laba Skoloderus, yang tinggal di daerah tropis, berbeda dari kebanyakan jaring, dan tampilannya mirip dengan kertas-lalat. Dengan cara ini, Skoloderus mudah menangkap ngengat. Laba-laba Skoloderus membangun jaring yang panjangnya satu meter dengan lebar 15-20 sentimeter, mirip sebuah tangga. Ngengat yang tertangkap jatuh ke dasar jaring. Selama jatuh, ngengat kehilangan sebagian besar debu pelindung yang mencegahnya menempel pada jaring biasa, dan akhirnya terjerat dalam perangkap Skoloderus.
Jadi, laba-laba ini memiliki teknik yang sangat berbeda dari spesies lainnya. Yang perlu dicatat dari metode berburu ini adalah bahwa laba-laba ini membuat jaring dengan keistimewaan mampu menangkap serangga yang diburunya. Dengan konstruksi jaring yang lain daripada yang lain, spesies laba-laba ini merupakan bukti dari karya-cipta Tuhan yang tiada tara.
Laba-laba Pelempar-Jala: Dinopis

Jaring Dinopsis, tidak seperti milik laba-laba lain, mempunyai keunikan berupa dilemparkan kepada korbannya.
Laba-laba berwajah-raksasa ini, yang nama ilmiahnya Dinopis, menggunakan teknik berburu yang sangat luarbiasa dan menakjubkan. Bukannya membangun jaring yang tetap dan menanti mangsa, ia membuat jaring khusus yang dilempar kepada mangsanya. Selanjutnya membungkus mangsanya di dalam jaringnya ini. Serangga yang tertangkap mati terpedaya. Kemudian ia membungkus mangsanya dengan benang yang baru agar menjadi sebuah "paket" yang tetap segar untuk konsumsi masa datang.
Jelas bahwa laba-laba ini menangkap mangsanya dengan kerangka kerja yang terencana. Suatu perencanaan dan pembuatan jaring dengan ukuran, bentuk dan kekuatan yang tepat, sehingga sesuai untuk metode berburu semacam ini. Hal ini dan cara membungkus mangsanya merupakan aktivitas-aktivitas yang membutuhkan kemampuan superior yang berdasarkan kecerdasan. Pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa konstruksi jaring laba-laba ini tidak memiliki cacat.
Dalam segala segi, jaring Dinopis merupakan sebuah keajaiban perencanaan. Sementara susunan kimia dari suteranya saja merupakan keajaiban tersendiri, teknik penggunaan jaringnya juga sangat menarik. Ketika laba-laba ini menunggu mangsanya, jaringnya mirip sarang sempit yang terbuat dari jerami. Namun penampilan adem ini sebenarnya sebuah tipuan. Ketika laba-laba beraksi menangkap mangsanya, ia menggunakan kaki-kakinya membalikkan jaring tersebut dari dalam ke luar sehingga menjadi sebuah perangkap maut. Mangsa pun tak dapat lolos darinya.
Bagaimana laba-laba ini bisa membuat jaring dengan perencanaan mekanik dan konstruksi kimia yang demikian sempurna? Pekerjaan ini bukanlah hal yang sederhana, melainkan memerlukan perencanaan, sesederhana apapun. Masing-masing memerlukan rencana dan pengalaman yang berbeda. Hal ini dapat kita gambarkan sebagai berikut. Saat menerangkan jaring laba-laba, kami sering menggunakan ungkapan "seperti renda". Karena kemiripan inilah, tidak salah jika dikatakan bahwa laba-laba sebenarnya sedang membuat renda.

Gambar-gambar ini menunjukkan tahap-tahap dari teknik perburuan Dinopis. Laba-laba ini bergantung pada seutasbenang yang dicantolkannya pada sebuah dahan atau ranting. Lalu ia menunggu untuk menyergap. Tidak ada jalan kabur bagi mangsa yang lewat di bawahnya. Laba-laba ini tiba-tiba melompat dan melemparkan jaringnya kepada mangsanya.



Mari kita bayangkan seorang laki-laki di jalanan diberi peralatan untuk membuat renda (bidal, jarum-jarum, benang, dll) dan kain katun. Tanpa pengalaman sebelumnya, dapatkah orang ini membuat renda saat pertama kali mencobanya? Atau dapatkah kita membayangkan taplak-meja rendaan yang terbentuk dengan sendirinya dari ikatan-ikatan yang terjadi secara kebetulan? Tentu saja mustahil.
Mustahil suatu rencana muncul dengan sendirinya, karena hal itu membutuhkan kecerdasan, kecakapan, dan cara untuk menyampaikan informasi. Agar suatu mahluk hidup dapat membuat rencana, dan lebih jauh lagi, agar ia mampu melaksanakan rencana tersebut tanpa kegagalan, maka mahluk ini harus lah "cerdas". Namun mustahil untuk menerima bahwa seekor serangga bisa cerdas, dapat berpikir dan membuat rencana. Yang demikian itu merupakan rantai logika yang dangkal untuk bisa sampai kepada kebenaran, dan tidak mencerminkan realitas. Mesti ada kekuatan yang memberi serangga ini kecerdasan, atau lebih tepatnya mengarahkannya, yang mengajarinya apa yang harus dilakukan, atau lebih tepatnya membuatnya melakukan tugasnya. Dengan kata lain, serangga tersebut ada Pembuatnya.
Seperti telah kita lihat, jelas benar bahwa mahluk hidup ini diciptakan oleh Tuhan. Namun kaum evolusionis menafikannya, malah menduga-duga dengan kemungkinan-kemungkinan khayalan. Kepatuhan kepada teorinya sendiri membuat mereka tidak mampu berpikir sehat, melihat, ataupun mendengar. Hal itu telah membuat mereka buta terhadap kebenaran yang nyata dan tak dapat menerima apa yang mereka lihat dan fahami.
Menurut kaum evolusionis, Dinopis membuat jaring istimewanya itu secara kebetulan, dan belajar menggunakan jaringnya itu secara kebetulan pula. Setiap orang yang berakal sehat dapat melihat bahwa kejadian demikian itu sangat mustahil. Meskipun jelas mustahil, mari kita anggap bahwa Dinopsis dapat membuat jaringnya secara kebetulan. (Akan kita abaikan asal muasal terjadinya Dinopsis, juga bagaimana mahluk ini menghasilkan zat kimia dalam tubuhnya untuk membuat jaring, kita menerimanya sebagai bakat bawaan). Dalam hal ini, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab: Jika jaring pertama dibuat secara kebetulan, bagaimana terjadinya jaring yang kedua dan ketiga? Bagaimana laba-laba dapat menghasilkan jaring yang tepat sama dengan membuatnya secara kebetulan (sembarangan)? Bagaimana laba-laba yang baru lahir mengetahui cara membuat jaring, membuat jaring dengan mutu yang berbeda dengan laba-laba lainnya, serta bisa melemparkan jaring tersebut kepada mangsanya?
Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Karena tak mampu belajar, atau mengingat dalam hati, dan tidak memiliki otak yang memadai untuk melakukan hal-hal ini, laba-laba mendapatkan semua itu karena anugerah Tuhan, Pencipta Yang Maha Kuasa dari seluruh mahluk hidup.










Laba-laba Portia: Penipu Ulung

Laba-laba Portia meniru dan memburu spesiesnya sendiri. Misalnya, Portia (bawah), dalam gambar ini, menipu Euryattus betina (atas) yang tinggal di daun tergulung yang ditahan dengan benang-benang sutera, dengan meniru upacara perkawinan laba-laba Euryattus.. Tentu saja mustahil bagi seekor laba-laba menemukan dan melakukan “kecakapan imitatif” ini dengan sendirinya. Laba-laba diciptakan Tuhan dengan keistimewaan ini.
Berbeda dari kebanyakan laba-laba, selain membuat jaring, laba-laba Portia Fimbriata memburu mangsanya jauh dari jaringnya sendiri. Keistimewaan lain dari Portia adalah lebih menyukai spesiesnya sendiri dibanding serangga lain sebagai makanannya. Oleh karena itu, medan perburuannya umumnya jaring-jaring laba-laba lain. Saat berburu, ia menggunakan strategi menarik.
Umumnya, Portia mendarat pada sebuah jaring ketika angin bertiup atau saat seekor serangga sedang berusaha membebaskan diri. Getaran yang kuat dari serangga tersebut menyamarkan goncangan yang ditimbulkan Portia saat mencari mangsa. Jika dilihat, nampak seperti serpihan daun yang ditiup angin ke arah jaring. Tidak seperti laba-laba lain yang melompat kegirangan saat menerkam mangsanya, Portia bergerak dengan perlahan. Ketika sampai ke jaring, ia melakukan penipuan dengan memetik dan menepuk-nepuk sutera jaring dengan kaki-kakinya, meniru seekor serangga yang terperangkap. Ketika pemilik jaring mendekat, Portia bersiaga dan menanti saat yang tepat untuk menerkam.
Laba-laba Portia juga menipu anggota spesies mereka sendiri dengan meniru tingkah mereka. Misalnya dengan meniru ritual perkawinan laba-laba Euryattus yang tinggal dalam daun tergulung yang tergantung dengan tali-tali sutera. Dengan duduk di atas rumah laba-laba betinanya, Portia menggoyang-goyangkan daun tersebut, menari di atasnya seperti Euryattus jantan. Tertipu oleh gerakan itu, laba-laba betina tersebut keluar dari sarangnya.
Bagaimana Portia dapat meniru isyarat-isyarat laba-laba jenis lain, dan mengapa ia memilih cara berburu yang berbeda? Tidak logis jika kita beranggapan bahwa seekor laba-laba dapat "meniru kecakapan" dan karenanya memilih teknik berburu yang menarik seperti itu. Laba-laba ini berburu dengan cara demikian karena begitulah ia diciptakan oleh Tuhan. Dengan contoh demikian, Tuhan menunjukkan kepada kita sifat karya-ciptaNya yang tiada tara.




Teknik Memancing Dari Laba-laba Dolomedes


Laba-laba yang menunggu untukmenyergap di jaring mereka yang ringkih dan bersembunyi di tengah rerimbunan, diciptakan sebagai mesin pembunuh sejati. Mereka bahkan dapat berjalan di air untuk berburu (bawah). Jika perlu mereka dapat membangun sebuah lonceng dan hidup di bawah air.
Beberapa laba-laba bahkan harus berburu di lingkungan yang tidak terduga. Medan perburuan laba-laba air Dolomedes, misalnya, adalah permukaan air. Laba-laba ini sering ditemukan di tempat-tempat dangkal seperti rawa dan parit.
Laba-laba air, yang tidak memiliki penglihatan yang baik, menghabiskan hampir seluruh waktunya di dekat air dengan membuat benang-benang sutera dan menyebarkannya di sekitarnya. Konstruksi ini mempunyai dua fungsi: sebagai peringatan batas wilayah kepada laba-laba lainnya, dan sebagai jalur penyelamatan jika terjadi bahaya tak terduga.

Spesies laba-laba ini dapat bergerak dengan nyaman di atas air, berkat cairan tahan air pada kaki-kakinya. Gambar ini menunjukkan seekor laba-laba air yang baru saja menangkap ikan.
Cara berburu yang paling sering digunakan laba-laba ini adalah dengan meletakkan empat kakinya di air sementara empat yang lainnya di tanah kering. Saat melakukan ini, ia menggunakan teknik yang sangat pandai untuk mencegah tubuhnya tenggelam. Kaki-kaki yang akan dipakai di air ditutupi dengan pelapis anti-air dengan cara melewatkannya ke taringnya. Ia kemudian mendekati sisi air. Dengan mendorong tubuhnya ke air secara sangat hati-hati, laba-laba ini bergerak ke permukaan air. Ia memasukkan taring dan perabanya di bawah air sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu permukaan air. Ia kemudian menunggu kedatangan mahluk hidup dengan mata memandang ke sekitarnya, sementara kaki-kakinya merasakan getaran air. Untuk makanannya, laba-laba ini harus menemukan mangsa sedikitnya sebesar ikan "Golyan", seperti nampak dalam gambar.
Ketika laba-laba ini berburu, ia diam tak bergerak hingga ikan mendekat sekitar 1,5 sentimeter dari mulutnya. Setelah mangsa ada dalam jarak sasaran, dengan cepat ia masuk ke dalam air dan menangkap ikan dengan kaki-kakinya, dan menggigitnya dengan taring beracunnya. Untuk mencegah ikan tenggelam, yang jauh lebih besar dari dirinya, ia cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Bisa yang disuntikkan bekerja dengan cepat. Selain mematikan mangsanya, bisa tersebut juga melarutkan organ-organ dalam dari mangsanya menjadi semacam sup yang mudah dicerna. Setelah mangsanya mati, laba-laba ini menyeretnya ke pinggir dan menyantapnya.
Sampai disini, terpikir berbagai pertanyaan. Bagaimana laba-laba ini bisa memiliki lilin yang mencegahnya tenggelam? Bagaimana ia mempelajari cara melapisi kaki-kakinya dengan lilin tersebut agar tidak tenggelam? Bagaimana laba-laba tahu formula lilin dan cara membuatnya? Laba-laba tentu tidak mendapatkannya dari belajar. Setiap keistimewaan ini memerlukan kecerdasan dari bidang keahlian tersendiri. Seperti mahluk hidup lainnya, laba-laba yang bisa bertindak cerdas sehingga mampu membuat rencana dan mempraktekkannya, mendapat inspirasi dari Tuhan. Dalam salah satu ayatNya, Tuhan menyatakan bahwa Dia memberi kepada setiap mahluk perbekalannya sendiri-sendiri:
Tiada satu mahluk melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezkinya. Dia mengetahui tempat tingalnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya ada dalam Kitab yang nyata. (Surah Hud:6)
Teknik Menyelam Laba-laba Lonceng

Gelembung milik laba-laba air pada gambar ini direncanakan sebagai cara yang paling ideal untuk hidup di bawah air. Mustahil laba-laba menemukan cara hidup di bawah air ini secara kebetulan. Allah-lah yang menciptakan laba-laba dengan karakteristik ini.
Laba-laba air dari wilayah hangat Asia dan Afrika menghabiskan kebanyakan waktunya di bawah air. Karenanya, mereka membuat sarang di dalam air.
Untuk membangun sarangnya, mula-mula laba-laba ini membuat sebuah bidang rata antara tangkai-tangkai atau dedaunan di dalam air. Bidang rata ini dilekatkannya ke tangkai-tangkai dengan benang-benang suteranya. Selain untuk menstabilkan bidang datar, benang-benang ini juga berfungsi sebagi ciri untuk pulang ke rumahnya, juga bekerja seperti radar yang memperingatkan adanya mangsa yang mendekat.
Setelah bidang rata terbentuk, laba-laba mengangkut gelembung udara ke bawahnya dengan kaki-kaki dan tubuhnya. Dengan cara ini, jaring menggembung ke atas. Dengan semakin banyak udara yang ditambahkan, bentuk jaring menjadi serupa lonceng. "Lonceng" ini lah sarang tempat tinggalnya.
Pada sianghari, laba-laba menanti di sarangnya. Jika ada binatang yang lewat, terutama serangga atau larva, ia menerkam dan menyeretnya ke sarang untuk di santapnya. Serangga yang jatuh ke atas permukaan air menimbulkan getaran. Laba-laba dapat merasakannya dan segera muncul ke permukaan untuk mengejarnya dan menariknya ke bawah air. Laba-laba ini bahkan menggunakan jaringnya di permukaan air. Baik serangga maupun korban lainnya yang jatuh kedalam jaringnya mengalami hal yang sama.
Ketika musim dingin menjelang, laba-laba harus berjaga-jaga agar tidak membeku. Karena alasan inilah, saat musim dingin tiba, laba-laba air ini turun lebih dalam. Pada saat itu, ia akan membuat lonceng musim dingin dan mengisi bagian dalamnya dengan udara. Beberapa laba-laba lainnya pindah ke cangkang siput-laut yang kosong. Ia tidak pernah bergerak di dalam loncengnya, dan hampir tidak menggunakan energi yang ada selama musim dingin. Ini untuk menghemat energi dan mengurangi penggunaan oksigen. Ini berarti bahwa gelembung udara yang dibawanya menuju lonceng dapat bertahan hingga 4-5 bulan selama musim dingin.

a) Laba-laba rakit bersiap untuk berburu di air.
b) Laba-laba tersebut, yang merasakan gerakan di dalam air dengan kaki-kakinya, menunggu tak bergerak sampai seekor ikan “Golyan” mendekat.
c-d-e) Setelah menangkap dan meracuni ikan itu, ia membawanya ke darat.

Dapat kita lihat bahwa gelembung udara dan teknik berburu laba-laba ini merupakan cara yang ideal untuk hidup di bawah air. Mustahil bagi mahluk hidup bisa mencari penghidupannya di bawah air secara kebetulan. Jika suatu mahluk tidak memiliki keistimewaan yang diperlukan untuk hidup di bawah air, ia akan mati tenggelam segera setelah masuk ke dalamnya. Dia tak akan sempat menunggu terjadinya hal yang kebetulan, atau yang lainnya. Karenanya, mahluk darat yang dapat hidup di bawah air karena kecakapannya yang sesuai untuk itu, berutang budi kepada keberadaan kecakapannya itu. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa laba-laba air, yang memiliki karakteristik dan kemampuan istimewa ini, diciptakan Tuhan dalam keadaannya yang sempurna.
Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun melainkan Dia lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Surat Hud:56)


Laba-laba Yang Menyerupai Roda
Ketika menghadapi bahaya, beberapa spesies laba-laba di gurun Namibia, Afrika Barat-Daya, menarik kaki-kakinya sehingga membentuk tubuhnya tepat seperti roda. Dengan gerakan jungkir-balik yang berulang, ia menjauh dari bahaya dengan cepat.
Ukuran laba-laba ini sekitar 2,5-3 sentimeter dan dapat bergerak dengan kecepatan 2 meter per detik. Sebagai bahan perbandingan, putaran tubuh laba-laba dalam bentuk rodanya sama dengan putaran roda kendaraan dengan kecepatan 40 kilometer per jam.

Laba-laba ini, yang sengaja membangun sarangnya di puncak bukit pasir, melenting begitu lebah liar mulai menggali sarangnya.
(Bawah) untuk memperoleh kecepatan, pertama laba-laba mengambil beberapa langkah, kemudian, sambil melipat masuk kelima kakinya yang berhubungan, ia bergerak cepat, seperti roda yang berguling menuruni bukit.

Beberapa spesies laba-laba menggunakan teknik ini untuk kabur dari musuhnya. Musuh yang paling sering dihadapi adalah tawon liar betina. Ketika laba-laba ini, yang membuat sarangnya di atas bukit pasir, merasakan keberadaan tawon-tawon yang mulai menggali sarangnya, ia segera berlari keluar. Mula-mula ia mengambil beberapa langkah untuk membangun kecepatan. Kemudian melipat kaki-kakinya kedalam dan menggelinding kebawah untuk kabur. Jika saja laba-laba ini membangun sarangnya di bawah bukit, ia tidak akan bisa mendapatkan kecepatan yang diperlukan untuk kabur, dan karenanya akan tertangkap. Karena itulah ia membangun sarangnya di atas bukit. Tindakan siaga ini, meskipun tidak bertemu musuh, merupakan perilaku yang sadar. Tidak dapat diragukan bahwa Tuhan lah yang mengilhaminya untuk melakukan hal itu. Tuhan mencipta tanpa contoh sebelumnya, dan Dia Maha Melihat kepada semua ciptaanNya.
Laba-laba Peludah
Spesies laba-laba yang dikenal sebagai Scytodes membunuh korbannya dengan menyemprotkan campuran racun dan zat perekat. Cairan-cairan ini dibuat di dalam kelenjar besar di belakang matanya. Kelenjar ini terbagi dalam dua rongga. Yang satu berisi racun, yang lainnya berisi zat perekat. Laba-laba ini mengerutkan otot-otot di sekitar rongga perekat, maka zat perekat menyembur dari taringnya. Dengan pola semburan zig-zag, zat perekat ini membentuk jala yang merekatkan mangsa ke daun atau ranting yang dilewatinya. Dengan membuat mangsanya tak dapat bergerak dan melekat pada cabang atau daun, ia dapat menyantapnya di kemudian waktu.
Perangkap Pasilobus
Laba-laba yang hanya ditemukan di New Guinea ini sangat ahli dalam mempersiapkan perangkap. Jaring-jaring yang dibuat Pasibolus sangat lengket. Keseluruhan jaring dikalungkan di antara dua buah titik tetap. Ikatan pada ujung yang satu sangat ketat, sementara ujung yang lainnya dibiarkan longgar. Ini bukan suatu kesalahan, atau akibat kelalaian laba-laba. Bukti bahwa hal ini sebagai strategi berburu dapat kita ketahui saat seekor mangsa mendekat. Ketika seekor ngengat terbang menabrak jaring, ikatan yang longgar terlepas. Karena ujung yang satunya terikat kuat, serangga tersebut tetap tergantung bagai kantung yang tergantung di udara. Kemudian Pasibolus mendekatinya dan menyemprotkan zat perekat ke tubuhnya secara merata mulai dari kepalanya. Dengan cara ini, laba-laba ini menangkap mangsanya hidup-hidup.
KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK LABA-LABA PELOMPAT
Lompatan sempurna

“Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.”
(QS. Al Jaatsiyah, 45: 4) !
Berbeda dari laba-laba spesies lainnya yang membuat jaring dan menunggu mangsa, laba-laba pelompat lebih suka menyerang mangsanya dengan cara melompat, sesuai dengan nama yang disandangnya. Laba-laba ini demikian ahlinya sehingga mampu menangkap serangga yang yang sedang terbang dari jarak setengah meter lebih.
Teknik yang mengagumkan ini bisa dipakai laba-laba berkat daya tekan hidrolik pada kedelapan kakinya. Pada akhir penyerangan, laba-laba ini menukik ke arah mangsanya dan menancapkan taringnya. Lompatannya biasanya dilakukan di antara tumbuh-tumbuhan di daerah yang lebat. Untuk bisa berhasil, laba-laba harus memperhitungkan sudut lompatan yang tepat, juga kecepatan dan arah gerak dari korbannya.
Yang lebih menarik lagi adalah cara laba-laba ini menghindari bahaya kematian setelah menangkap mangsanya. Karena harus melemparkan dirinya ke udara saat menangkap mangsanya, laba-laba ini menghadapi risiko kematian. Ia bisa jatuh luluh ke tanah dari ketinggian (biasanya dari puncak pohon). Namun laba-laba ini menghindari hal ini dengan menambatkan benang sutera yang dibuatnya ke cabang pohon tempat ia bertengger sebelum melompat. Ini mencegahnya jatuh dan membuatnya bergantung di udara. Benang tersebut cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya dan mangsa yang ditangkapnya.



Misi: Mencari dan mengunci sasaran

Laba-laba pelompat diciptakan cukup kuat untuk memburu mangsa yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Karakteristik lainnya dari laba-laba ahli melompat ini juga tak bercacat. Dua dari matanya yang terletak di tengah kepalanya menjorok ke depan seperti teropong. Dua matanya yang besar ini dapat bergerak ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah pada soketnya. Berkat retina mata yang berlapis empat, yang sensitif terhadap gelombang hijau dan ultraviolet, jarak pandang laba-laba ini baik sekali. Penglihatan keempat mata lain di sisi kepalanya tidak sejelas kedua mata depan ini, namun dapat merasakan setiap gerakan di sekitarnya. Dengan cara ini, hewan ini dengan mudah merasakan keberadaan mangsa atau musuh di belakangnya.
Mari kita pikirkan apa yang telah kita pelajari sejauh ini. Konstruksi tubuhnya sedemikian rupa sehingga membuatnya lincah bergerak, dan mampu menangkap mangsanya dengan satu lompatan. Matanya juga mampu melihat mangsanya dari setiap arah.
Secara alami, laba-laba ini tidak berpikir bahwa mata-mata tambahannya bisa bermanfaat baginya, lalu kemudian menggunakannya. Mata-matanya ini tidak muncul secara kebetulan. Hewan ini diciptakan Tuhan, lengkap dengan semua karakteristiknya. Teori evolusi, yang tak mampu menjelaskan bagaimana terjadinya sebuah mata, tak mampu berkomentar terhadap kedelapan mata laba-laba pelompat ini, serta koordinasi diantara semuanya.







Teknik Penyamaran Yang Lengkap

Kemampuan banyak mata laba-laba pelompat, untuk melihat secara terpisah memungkinkan mengetahui benda-benda lebih cepat. Kemampuan ini, bukti dari ilmu Allah yang tinggi, menjadikan laba-laba pelompat pemburu yang ulung.
Jika Anda ditanya apa yang dapat Anda lihat dalam gambar kanan-atas ini, umumnya Anda akan menjawab "beberapa semut di atas dan di bawah daun". Namun sesuatu yang diam menunggu di bawah daun tersebut bukanlah seekor semut, melainkan laba-laba pelompat yang dikenal sebagai Myrmarachne. Satu-satunya cara untuk membedakan laba-laba tersebut dari semut adalah dari jumlah kakinya. Karena laba-laba memiliki delapan kaki sedangkan semut hanya enam.
Bagaimana laba-laba pelompat bisa mengelabui semut-semut? Ia melakukannya bukan hanya dengan bentuk penampilan saja, melainkan juga dengan perilakunya. Sebagai contoh, untuk menyembunyikan jumlah kakinya, laba-laba pelompat memegang dua kaki depannya untuk meniru antena semut. Dengan cara ini, kaki-kaki ini menyerupai antena semut. Sampai di sini kita mesti berhenti dan berpikir: itu berarti bahwa laba-laba dapat berhitung. Laba-laba ini menghitung jumlah kaki-kakinya dan jumlah kaki semut, dan kemudian membandingkannya. Melihat adanya perbedaan ini, ia mengerti bahwa ia harus menutupinya dengan cara yang sangat pintar dengan membuat dua kaki depannya menyerupai antena.

Dari ketiga serangga di gambar ini, hanya dua dua di pinggir yang semut, yang ditengah adalah laba-laba pelompat. Perbedaan antara laba-laba dan semut adalah sepasang kaki tambahan yang dimiliki laba-laba.
Sampai di sini, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan. Pertama-tama, laba-laba samasekali berbeda secara fisik dari semut. Agar bisa menyerupai semut, tidak cukup bagi laba-laba hanya dengan mengangkat dua kakinya ke udara. Ia juga harus meniru cara semut berjalan dan posisi tubuhnya. Untuk itu ia harus menjadi pengamat yang ahli, juga ahli dalam meniru apa yang dilihatnya, seperti seorang aktor yang sedang memainkan sebuah peran.

Rahang yang dapat Dilipat
Laba-laba pelompat ini, Mopsus mormon, dapat dengan mudah menangkap mangsa hingga lima kali lebih besar dari ukurannya sendiri (kiri), karena ia memiliki rahang yang besar dan kuat. Ketiak laba-laba itu tidak meng-gunakan rahang yang hitam dan besar untuk berburu, ia melipat-nya ke dalam mulutnya, membuat ia dapat bergerak dengan bebas. Berkat rahang yang kuat ini, Mopsus mampu dapat mena-ngani tikus, bahkah ular.
Seperti telah kita lihat, laba-laba di atas menggunakan cara-cara peniruan yang memerlukan pemikiran, merubah pemikiran tersebut kedalam tindakan, dan melakukan perubahan-perubahan fisik saat melakukannya. Tak satu pun manusia yang berakal sehat akan menyangkal bahwa laba-laba tidak dapat melakukan semua itu. Satu saja alasannya, otak laba-laba tidak akan mampu memikirkannya. Jika demikian, apa yang menjadi sumber kemampuan laba-laba ini? Namun sebelum sampai pada suatu kesimpulan, sebaiknya kita lihat dahulu beberapa kemampuan lain yang diperlukan bagi sempurnanya penyamaran diatas.
Penyamaran laba-laba tidak sebatas uraian diatas. Agar nampak seperti semut, ia harus menyembunyikan matanya yang besar itu. Sebuah karakteristik laba-laba menyelesaikan masalah ini. Dua bintik gelap di kedua sisi kepala laba-laba menyerupai mata majemuk besar dari semut penganyam.

Berkat tubuhnya yang datar, laba-laba Selandia Baru ini dapat menya-markan dirinya dengan mudah di antara daun-daun.
Mari kita berhenti dan berpikir. Laba-laba ini tidak mengetahui adanya kedua bintik di sisi kepalanya. Sangat tidak logis untuk membicarakan bahwa seekor laba-laba mengetahui sesuatu hal dan secara sadar mengembangkan suatu strategi darinya. Dalam hal ini, bagaimana laba-laba ini bisa memiliki mata palsu dikedua sisi kepalanya? Bgaimana laba-laba bisa "belajar", "menghitung", dan "meniru"? Apa yang akan terjadi apabila ia tidak memiliki kedua mata palsu itu? Dalam keadaan demikian, sebagus apapun peniruan yang dilakukan laba-laba, semut akan dapat mengetahuinya. Jika semut-semut menyadari bahaya ini dan bereaksi sebelum laba-laba bertindak, maka akan tamat lah riwayat laba-laba ini. Semut-semut akan membunuh laba-laba dengan taringnya yang kuat. Jelas bahwa dapat meniru saja tidak lah cukup, laba-laba juga harus memiliki mata palsu sejak lahir agar penyamarannya berhasil.

Begitu menetas, setiap laba-laba muda mempunyai kemampuan untuk membuat jaring, karena dia diciptakan dengan sebuah tubuh yang dibuat untuk membangun jaring dan dengan kecakapan dan pengetahuan tentang bagaimana sebuah jaring dibangun.
Ini adalah beberapa karakteristik yang diperlukan laba-laba ini untuk dapat bertahan hidup. Satu saja hilang, laba-laba pelompat ini akan langsung mati. Karenanya mustahil bahwa laba-laba ini muncul dengan semua karakteristik di atas karena peristiwa kebetulan. Laba-laba dan semua karakteristiknya terjadi secara bersamaan. Tuhan telah menciptakan setiap mahluk hidup dalam bentuknya yang sempurna, lengkap dengan karakteristik-karakteristik yang diperlukan.
Rahang Pisau-lipat
Laba-laba jantan Myrmarachne plataleoides memiliki penampilan yang paling menarik. Ia memiliki "hidung" yang panjang. Ketika laba-laba ini menangkap mangsanya, atau jika dalam bahaya, ia membelah "hidung"-nya dan merubahnya menjadi rahang-rahang dengan taring terhunus pada masing-masing ujungnya. Ini dilakukannya dengan membuka lipatan pada "hidung"-nya itu. Selanjutnya, ia menggunakan alat tajam dan panjang ini layaknya sebuah pedang.
Kasih-sayang Laba-laba Pelompat
Pada saat-saat tertentu, laba-laba pelompat membawa anaknya yang baru lahir di punggungnya. Dengan cara ini ia dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus melindungi anak-anaknya dengan lebih baik. Sebagai mesin pembunuh berdarah dingin, laba-laba ini pada saat yang sama sangat mengasihi keturunannya. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi kaum evolusionis, yang berpendapat bahwa ada persaingan hidup di antara mahluk-mahluk hidup, dan hanya yang dapat menyesuaikan diri yang dapat bertahan hidup. Namun jika kita amati mahluk-mahluk hidup di alam, kita akan menemui contoh-contoh yang bertentangan dengan pendapat mereka. Ada banyak contoh kasih-sayang yang nyata di antara mahluk-mahluk dalam spesies yang sama maupun di antara spesies yang berbeda. Fakta pengorbanan diri untuk mahluk hidup lainnya, atau mengambil risiko maut demi anak-anaknya, membuat kaum evolusionis menemui jalan buntu saat mereka melihat fakta alam. Sebuah majalah ilmiah menguraikan keadaan ini sebagai berikut:

Laba-laba menggunakan warna mereka untuk menyamarkan dirinya. Laba-laba pelompat ini diciptakan dengan warna dan pola yang sama dengan tanah. Ia menunggu sampai seekor ngengat - yang tidak dapat melihatnya karena warnanya - mendekat, dan si laba-laba menerkamnya.


Peniruan laba-laba pelompat terhadap semut begitu sempurna sehinga laba-laba pelompat lainnya mengira mereka semut asli dan mencoba memburu mereka.
Pertanyaannya adalah mengapa mahluk-mahluk hidup saling membantu? Menurut teori Darwin, setiap mahluk hidup selalu berperang untuk mempertahankan hidupnya dan untuk berkembang biak. Karena menolong mahluk-mahluk lain akan mengurangi peluang hidupnya sendiri, pola perilaku ini semestinya telah lama hapus. Sebaliknya, banyak fakta bahwa mahluk-mahluk hidup kadang mampu mengorbankan diri. Jelas mustahil untuk menjelaskan bahwa kasih-sayang induk binatang kepada keturunannya ini timbul melalui mekanisme evolusi. Ini merupakan fakta yang definitif sehingga banyak kaum evolusionis, seperti Cemal Yildrim, harus mengakuinya:
Adakah peluang untuk menjelaskan kasih-sayang terhadap keturunan dengan sistem "buta" yang tidak menyertakan faktor-faktor emosional (seleksi alam)? Sulit sekali untuk mengatakan bahwa para ahli biologi, dan para penganut Darwinisme, dapat memberikan tanggapan yang memuaskan terhadap pertanyaan ini.











Kadang kala laba-laba pelompat bahkan saling memburu sesamanya. Yang menarik adalah bagaimana mereka melakukan ini dengan meniru spesies laba-laba lain. Phyaces comosus adalah artis peniru yang sempurna, yang menyelinap ke sarang laba-laba lain dan menyantap telur-telurnya.
Phyaces yang panjangnya 2 milimeter tampak seperti tiruan segumpal lumpur. Ia memanfaatkan kemiripan ini untuk memeragakan sesuatu yang unik. Dengan meniru segumpal lumpur yang digulingkan oleh angin, ia perlahan mendekati sarang yang menjadi sasarannya. Ia memainkan peranan sedemikian baik sehingga induk laba-laba yang berdiri menjaga di pintu masuk sarang tidak menunjukkan kecurigaan kepadanya. Ketika laba-laba itu telah dekat dengan telur-telur sasarannya, ia tiba-tiba menyerang, menyambar sebutir telur dan mulai memakannya. Apalagi, tubuh Phyaces tertutup oleh bulu yang sangat tebal. Ini memberikan perlindungan penting. Ketika Phyaces terjatuh di antara sesamanya, ia mengangkat kakinya dan mencoba menakut-nakuti saingan mereka dengan mempertontonkan bulu yang bersinar di bawah tubuh mereka. Allah lah yang memberikan spesies laba-laba ini semua keistimewaan yang dimilikinya. Allah adalah Pencipta yang tanpa tandingan. Dia mengetahui semua penciptaan.



Sebagian dari keistimewaan yang memungkinkan Morpus mormon dengan mudah menangkap mangsa yang lebih besar dari dirinya adalah kakinya yang kuat dan rahangnya yang mematikan. Laba-laba di gambar ini baru saja menangkap seekor damselfly, yang jauh lebih besar daripadanya, dengan melompat ke lehernya, titik terlemah di tubuhnya.
Laba-laba pelompat adalah pemburu yang sangat sukses, bahkan sampai untuk menangkap belalang sembah, yang dikenal sebagai makhluk paling ganas di dunia serangga (kanan atas). Tentu saja, terkadang mereka juga menjadi mangsa belalang. (kanan bawah)







Tentu saja mustahil untuk menjelaskan konsep cinta, kasih-sayang dan keing
Pondok Pesantren Modern Assa'adah : http://localhost/auracms16
Versi Online : http://localhost/auracms16/?pilih=lihat&id=187