“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil), ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata,“Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata,”Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah [2] : 27).
K
urban merupakan suatu bentuk amal ikhlas serta taat seorang hamba pada sang Ilahi. Asal kata kurban berasal dari bahasa arab, qarraba-yuqarribu-taqarruban, yang berarti mendekatkan. Dengan maksud, mendekatkan diri pada sang kholik, Allah SWT.
Berkurban, dalam pengertian masyarakat pada umumnya adalah menyembelih hewan sembelihan seperti kambing, domba, sapi, dan kerbau. Tapi berkurban di sini bukan sekadar berkurban dengan segala kemewahan yang ada. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 27 yang artinya,”…Dia (Habil) berkata,”Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari seorang yang bertakwa”. Ayat tersebut jelas sekali menerangkan bahwa berkurban bukanlah suatu pekerjaan biasa yang mudah dilakukan oleh banyak orang. Ada beberapa pelajaran serta hikmah yang dapat diambil dari berkurban itu sendiri. Karena berkurban adalah bukti yang sangat kuat akan keimanan dan ketaatan seorang hamba pada tuhannya dan hanya segelintir orang sajalah yang berkurban dengan hasil yang maksimal (baca diterima oleh Allah.red).
Berkurban membutuhkan keikhlasan yang lebih dari cukup untuk mengantarkan kurban pada hakikat yang sebenarnya. Ini tak lepas dari sejarah yang ada, yang mengisahkan bagaimana kuatnya iman seorang ayah (Nabi Ibrahim) yang sangat patuh terhadap Allah serta seorang anak (Nabi Isma’il) yang bersedia menerima dengan lapang dada untuk disembelih oleh Ayahnya lantaran perintah dari Allah, yang kemudian Allah menukar Nabi Isma’il dengan seekor domba besar sebelum pisau Nabi Ibrahim menyentuh leher Nabi Isma’il.
Dari kisah tersebut, bisa disimpulkan bahwa berkurban merupakan pekerjaan (amalan) yang sangat mulia, yang bisa mendekatkan diri kita pada Allah tuhan semesta alam. Selain daripada itu, berkurban pun memiliki nilai sosial yang sangat tinggi, yang dapat menyatukan umat dari berbagai pihak, terutama antara kalangan atas dan kalangan bawah. Menarik untuk diperhatikan, pasalnya dengan berkurban ini, kita tidak saja berusaha mendekatkan diri padaNya, tetapi membagi apa yang kita punya kepada seluruh orang yang berada di sekitar kita. Itu jika kita meniatkan berkuban untuk bertaqarrub pada-Nya. Lain halnya jika kita hanya ingin mendapatkan berbagai pujian bahwa kita kaya, mampu dan sebagainya. Niat memang tidak bisa kita tebak. Tapi setidaknya Tuhan kita (Allah) Maha Melihat Lagi Maha Mengetahui. Wallahu ‘Alam Bisshhowab
|